Jam sudah menunjukkan pukul 06.00, jarang sekali Juan dan Esa telah sampai di Amih, atau bahkan ini pertama kalinya. Hal ini tentu saja karena laki-laki dengan nama lengkap Juan Aditama itu terburu-buru ingin bertemu dengan gebetannya, Dania.
Bahkan saat ini belum ada anak SMA 7 lain yang datang untuk parkir di rumah Amih. Begitupun juga dengan Hamdanu, anak dari pemilik rumah yang dijadikan tempat parkir ini, yang masih berada di dalam kamar mandi.
Ting… handphone milik Juan berbunyi. Juan pun melihat notifikasi tersebut yang menunjukkan pesan bahwa Dania telah sampai di sekolah.
“Eh, ayo gc” ajak Juan
“Danu aja masih mandi, Reja juga belom sampe. Bentar dulu lah” jawab Naren
“Abisin dulu itu punya lu, buru buru amat si” lanjutnya sambil menunjuk satu batang rokok yang dihimpit oleh jari telunjuk dan jari manis milik Juan.
“Ah.. gua buru buru” ucap Juan sambil mematikan rokok miliknya.
“Ren, lu ada parfume kaga?” tanya Juan
“Gak bawa. Coba sono minta punya Danu.” jawab Naren
Juan pun masuk ke dalam rumah Hamdanu, izin kepada Amih untuk masuk ke kamar si anak tunggal.
“Nu, gua minta parfume lu ya” teriak Juan
“Hah? oh ambil ae di atas lemari” jawab Hamdanu dari dalam kamar mandi
Selesai menyemprotkan parfume milik temannya, Juan langsung keluar dari rumah Amih dan berlari menuju sekolah.
“WOI BURU BURU AMAT SIH. BAJU LU RAPIHIN Ju” teriak Naren.
Tentu saja Juan tidak menghiraukan ucapan Naren, ia tetap melanjutkan berlari ke sekolah. Sesampainya, ia barulah merapihkan bajunya dan berjalan ke arah kantin.
Sedangkan di kantin, Dania telah menunggu dengan perasaan yang tak karuan dan sedikit takut, jelas saja karena Dania akan bertemu dengan kakak kelasnya yang tak ia kenali sama sekali.
“Gapapa Dan, cuma balikin jas aja kok abis itu udah” ucapnya dalam hati, demi membuat dirinya sedikit lebih tenang.
“Dania?” panggil Juan